Minggu, 15 Februari 2009

PerinGatAN IsrA' Mi'raJ




[15716 Reads] Send this story to someone Printer-friendly page
Hikmah Isra' Mi'raj


Hudzaifah.org - Beberapa pekan yang lalu, kita melewati sebuah peristiwa sejarah yang sangat monumental. Momentum sejarah tersebut adalah peristiwa yang terjadi sekitar 14 abad Hijriyah yang lalu, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq, malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam sehari semalam. Peristiwa itu sekaligus sebagai mukjizat mengagumkan yang diterima Rasulullah SAW.

Permintaan kaum kafir Quraisy kepada Nabi SAW

Sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah untuk menunjukkan hal-hal yang aneh, karena mereka tidak percaya kalau Muhammad SAW itu adalah nabi. Permintaan-permintaan itu mereka lontarkan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar seorang Nabi. Hal ini direkam oleh Allah dalam Al Qur'an sebagai berikut:

"Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca". (QS. Bani Israil : 90 - 93)

Kalau kita jabarkan dari ayat di atas, mereka meminta hal-hal di bawah ini kepada Rasulullah:

  1. Mereka meminta untuk memancarkan mata air dari bumi.
  2. Mereka juga meminta sebuah kebun kurma dan anggur, dengan air mengalir di bawahnya. Padahal di sekitar situ sebagian besar padang pasir.
  3. Mereka meminta untuk menjatuhkan langit.
  4. Mereka juga meminta menghadirkan Allah beserta malaikat-malaikatnya untuk dihadapkan kepada mereka. Sungguh suatu permintaan yang lancang.
  5. Mereka juga meminta sebuah rumah dari emas.
  6. Yang terakhir, mereka meminta Nabi untuk naik ke langit tanpa membawa buku, lalu harus kembali dengan membawa sebuah buku (kitab) untuk mereka baca.

Permintaan mereka itu betul-betul "kebangetan". Tetapi Rasulullah SAW menjawabnya dengan bijaksana, "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (QS. Bani Israil: 93). Allah Yang Maha Suci tentu Maha Kuasa untuk melakukan semua itu, tetapi Rasulullah mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi seorang Rasul, sehingga tidak mungkin melakukan semua itu.

Kita bisa ambil pelajaran dari dari hal di atas. Mungkin sampai zaman kapan pun, kebenaran (baca: Islam) akan menghadapi hal-hal seperti itu. Orang yang membawa kebenaran akan selalu menghadapi permintaan-permintaan yang diluar kemampuan. Dan permintaan tersebut kebanyakan hanya sebagai "olok-olok". Karena, kalaupun kita bisa memenuhi permintaan itu, mereka kebanyakan tetap tidak akan mendengar Islam ini. Hanya sedikit yang mau mendengarnya. Sebagaimana halnya Rasulullah setelah mengalami peristiwa Isra' Mi'raj, tidak banyak yang mempercayai perjalanannya tersebut, bahkan ada yang mengatakan Nabi gila walaupun Nabi sudah memberikan bukti-bukti atas apa yang telah dia alami (Isra' Mi'raj).

Peringatan Isra' Mi'raj sebagai motivasi

Kalau kita baca sejarah kehidupan Rasulullah SAW (Sirah Nabawiyah), sebelum peristiwa itu terjadi, Rasulullah mengalami keadaan duka cita yang sangat mendalam. Beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah, yang setia menemani dan menghiburnya dikala orang lain masih mencemoohnya. Lalu beliau juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib, yang (walaupun kafir) tetapi dia sangat melindungi aktivitas Nabi. Sehingga orang-orang kafir Quraisy semakin leluasa untuk melancarkan penyiksaannya kepada Nabi, sampai-sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah SAW.

Dalam keadaan yang duka cita dan penuh dengan rintangan yang sangat berat itu, menambah perasaan Rasullah semakin berat dalam mengemban risalah Ilahi. Lalu Allah "menghibur" Nabi dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit dan menemui Allah. Hingga kini, peristiwa ini seringkali diperingati oleh sebagian besar kaum muslimin dalam peringatan Isra' Mi'raj. Pada dasarnya peringatan tersebut hanyalah untuk memotivasi dan penyemangat, bukan dalam rangka beribadah (ibadah dalam artian ibadah ritual khusus). Namun peringatan tersebut juga terdapat beberapa catatan. Apa saja itu? Mari kita ikuti beberapa hal di bawah ini.

Dalam Al Qur'an, dari sekian ribu ayat di dalamnya, hanya ada 4 ayat yang menjelaskan tentang Isra' Mi'raj, yaitu QS. Bani Israil ayat 1, dan QS. An Najm ayat 13 sampai 15. Maksudnya, kebesaran Islam itu bukan terletak pada peristiwa Isra' Mi'raj ini, tapi pada konsepnya, sistemnya, muatannya, dan sebagainya. Pada surat An Najm ayat 13-15 itu, menggambarkan bahwa Rasulullah menemui Jibril dalam bentuk aslinya di Sidratil Muntaha ketika Isra Mi'raj. Sebelumnya Rasulullah juga pernah menjumpai malaikat jibril dalam bentuk asli ketika menerima ayat pertama (QS. Al Alaq: 1-5) dari Allah SWT, yaitu ketika di gua Hira.

Dan di antara 25 nabi, hanya 2 Nabi yang yang pernah berbicara langsung kepada Allah, yaitu Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana dengan Nabi Adam, bukankah beliau juga pernah berdialog dengan Allah? Ya, tapi Nabi Adam ketika itu masih di Surga. Setelah diturunkan ke bumi, tidak lagi berdialog secara langsung. Nabi Musa berdialog dengan Allah secara langsung yaitu ketika di bukit Tursina (di bumi), sedangkan Nabi Muhammad di Sidratil Muntaha (di langit). Tetapi (sekali lagi), kebesaran Islam bukan di situ letaknya, namun di konsepnya, di muatannya. Oleh karena itulah, peristiwa Isra' Mi'raj sendiri tidak perlu secara berlebihan diangkat-angkat. Peristiwa itu sendiri merupakan mukjizat imani, maksudnya adalah mukjizat yang hanya bisa diterima apabila kita beriman.

Meskipun hanya Nabi Muhammad yang telah diperjalankan pada malam harinya (Isra' Mi'raj), tapi dia tetaplah manusia biasa, hamba Allah. Hal ini perlu ditegaskan, karena dua umat sebelum Islam (Yahudi dan Kristen), telah terjebak men-Tuhankan nabinya.

Mengapa Masjidil Aqsa?

Ada beberapa pertanyaan mengenai peristiwa Isra' Mi'raj. Salah satunya, mengapa dalam peristiwa itu Rasul diperjalankan ke Masjidil Aqsa? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hal hikmahnya, antara lain:

  1. Bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Inilah yang menyebabkan Yahudi dan Kristen menolak Nabi Muhammad, karena mereka melihat asal usul keturunannya (nasab). Alasan mereka itu sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka berarti rasialis, karena melihat orang itu dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berda'wah di Makkah, sedangkan Nabi yang lain berda'wah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan "golongan" Ibrahim dan merupakan sempalan. Bagi kita sebagai muslim, tidaklah melihat orang itu dari asal usulnya, tapi dari ajarannya.

  2. Hikmah berikutnya adalah, Allah dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsa adalah akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai "pembangkit" ruhul jihad kaum muslimin. Kadangkala, kalau tiada lawan itu semangat jihad kaum muslimin "melemah" karena terlena, dan dengan adanya sengketa tersebut, semangat jihad kaum muslimin terus terjaga dan terbina.

  3. Berikutnya, Allah ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi SAW. Pada Al Qur'an surat An Najm ayat 12, terdapat kata "Yaro" dalam bahasa Arab yang artinya "menyaksikan langsung". Berbeda dengan kata "Syahida", yang berarti menyaksikan tapi tidak musti secara langsung. Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung, karena pada saat itu da'wah Nabi sedang pada masa sulit, penuh duka cita. Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan Nabi-nabi sebelumnya, agar Muhammad SAW juga bisa melihat bahwa Nabi yang sebelumnya pun mengalami masa-masa sulit, sehingga Nabi SAW bertambah motivasi dan semangatnya. Hal ini juga merupakan pelajaran bagi kita yang mengaku sebagai da'i, bahwa dalam kesulitan da'wah itu bukan berarti Allah tidak mendengar.

http://www.hudzaifah.org/Article134.phtml

Hukum Memperingati Perayaan Isra` Mi’raj



إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ n وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki nama-nama yang husna dan sifat yang sempurna. Dialah satu-satunya yang mengatur alam semesta dan memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada sayyidul awwaliin wal akhiriin, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang berjalan di atas sunnahnya.

http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=711


Implementasi Isra' Mi'raj PDF Cetak E-mail
Kontribusi dari A Slamet Ibnu Syam
Senin, 28 Juli 2008
A Slamet Ibnu Syam
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Umm Durman Cabang Damaskus, Mantan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus-Suriah


Secara normatif di balik peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri Rasulullah SAW terdapat berbagai hikmah dan pelajaran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Di antara peristiwa-peristiwa tersebut, ada yang dapat dicerna oleh akal manusia dan ada pula yang tak dapat dijangkau olehnya.

Tentu hal-hal yang tak terjangkau itu disebabkan oleh keterbatasan yang dimiliki oleh akal manusia itu. Di antara peristiwa yang sulit dicerna dan dijangkau oleh akal manusia secara umum adalah peristiwa Isra Mi'raj Rasulullah SAW.

Isra Mi'raj adalah perjalanan yang dilakukan Rasulullah dari Masjidil Haram di Makkah menuju ke Masjid al-Aqsa di Palestina (Isra), lalu di lanjutkan (Mi'raj) menuju ke langit yang ketujuh. Setelah itu menuju Sidratul Muntaha dengan menggunakan kendaraan Buraq.

Seluruh perjalanan tersebut ditempuh Rasulullah hanya dalam waktu satu malam. Para ulama berbeda pendapat mengenai penetapan waktu terjadinyanya.

Menurut sebagian ulama, peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 bulan Rajab, pada pertengahan tahun ke-11 setelah kenabian atau dua tahun sebelum hijrah ke Madinah, sebuah peristiwa yang sempat mencengangkan penduduk kota Makkah saat itu. Ini karena biasanya, untuk menuju Masjid al-Aqsa dari Masjidil Haram saja, mereka membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Apalagi, untuk menuju langit ketujuh dan Sidratul Muntaha! Oleh sebab itu, mulailah bermunculan orang-orang murtad pascaperistiwa tersebut.

Saat itulah tampak antara orang-orang yang benar-benar beriman dan yang setengah-setengah. Padahal sesungguhnya, dengan kekuasaan dan kehendak Allah SWT tidak ada yang mustahil terjadi. "Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Ia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya: jadilah, maka terjadilah ia." (QS. Yaasiin [36]: 82).

Di antara hal-hal yang dialami dan dijumpai Rasulullah SAW saat Isra Mi'raj, ada beberapa hikmah dan pelajaran yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Pertama, Setelah kesulitan akan datang kemudahan. Isra Mi'raj adalah sarana yang dijadikan Allah SWT untuk menghibur hati Nabi Muhammad setelah bertubi-tubi cobaan dan kesulitan menimpanya.

Isra Mi'raj terjadi setelah peristiwa kematian paman dan istri Rasulullah tercinta. Isra Mi'raj juga terjadi setelah Nabi dan kaum Muslimin mengalami embargo ekonomi yang dilakukan kaum kafir Quraisy serta berbagai penderitaan yang lain. Oleh karena itu, bagi seorang Mukmin, cobaan dan kesulitan apa pun tak akan menggoyahkan keimanannya karena ia yakin kemudahan dari Allah akan segera datang.

Kedua, mahapenting dan mulianya ibadah shalat. Saat Mi'raj, di Sidratul Muntaha turunlah perintah melaksanakan ibadah shalat. Jika kita perhatikan, seluruh ibadah dalam Islam, di bumilah tempat diturunkannya perintah untuk melaksanakannya, kecuali shalat.

Shalat diperintahkan di langit. Di situlah letak penting dan mulianya ibadah shalat. Hal itu karena shalat adalah tiang agama. Shalat adalah mi'rajnya orang-orang Mukmin. Shalat adalah takaran baik dan buruknya seorang hamba karena shalat dapat mencegah perbuatan keji dan tercela (QS Al-Ankabut [29]: 45). Oleh karena itu, shalat adalah amal ibadah perdana yang akan ditimbang di hari kiamat nanti.

Ketiga, orang yang benar-benar beriman akan melihat cahaya Allah di hatinya dan tidak menunggu datangnya mukjizat untuk meyakini sebuah kebenaran. Saat orang-orang kafir diberitahu Rasulullah SAW tentang peristiwa Isra Mi'raj, tidak ada satu orang pun dari mereka yang memercayainya. Bahkan, ada sebagian orang Islam yang lemah imannya tidak percaya lalu keluar dari Islam (murtad).

Namun, apa kata Abu Bakar as-Shiddiq? Ia berkata: "Jika ia (Rasulullah SAW) berkata demikian, maka sesungguhnya ia benar. Sesungguhnya aku benar-benar memercayainya lebih jauh dari itu". Sejak itulah Abu Bakar dijuluki as-Shiddiq atau orang yang tepercaya.

Dalam Islam banyak sekali ajaran dan ibadah yang tak mudah dicerna dan dijangkau oleh akal manusia. Sebagai contoh, jumlah rakaat dalam shalat. Mengapa Shalat Shubuh harus dua rakaat, lalu Dzuhur, Ashar, dan Isya empat rakaat, serta Maghrib tiga rakaat?

Pada zaman modern ini sudah banyak penemuan ilmiah yang membuktikan akan kebenaran ajaran Islam, yang pada zaman dahulu tak dapat dicerna oleh akal sama sekali. Para ilmuwan yang menulis buku tentang I'jaz Ilmi (Mukjizat Keilmuan) dalam Alquran dan hadis pun sudah mulai marak. Namun, rahasia Allah di balik ajaran dan perintahnya jauh lebih banyak lagi. Nah, di sinilah akan diuji kesungguhan iman seorang Mukmin.

Keempat, sungguh pentingnya Masjid al-Aqsa di sisi Allah SWT. Saat Isra Mi'raj, Masjid al-Aqsa dijadikan Allah sebagai landasan pacu atau tempat take off Rasulullah hendak mi'raj menuju Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Allah.

Mungkin kita sempat bertanya, mengapa tidak langsung saja dari Masjidil Haram? Mengapa harus ke Masjid al-Aqsa terlebih dahulu? Itulah rahasia Ilahi di balik kebesaran, kemuliaan, dan pentingnya Masjid al-Aqsa.

Hal yang harus diimplementasikan dari pentingnya dan mulianya Masjid al-Aqsa di sisi Allah, bagi masyarakat Islam di dunia pada setiap masa adalah menjaga dan melestarikan Masjid al-Aqsa serta menjauhkannya dari tangan-tangan kotor yang berusaha menjajah dan merebutnya dengan berbagai cara. Semangat inilah yang mungkin dijadikan landasan Shalahuddin al-Ayyubi saat membebaskan dan memerdekakan Palestina pada masa lalu.

Kelima, pentingnya menjaga akhlak sosial masyarakat. Pada peristiwa Isra Mi'raj, Rasulullah diperlihatkan oleh Allah akan pedihnya dan dahsyatnya siksaan bagi orang-orang yang telah melakukan dosa-dosa sosial, seperti merampas harta anak-anak yatim, memakan harta hasil riba dan berzina. Dosa-dosa tersebut tidak hanya berkaitan dengan individu pelaku dosa, tetapi berkaitan erat dengan stabilitas tatanan sosial masyarakat.

Oleh karena itu siksaannya pun begitu pedih dan dahsyat. Di tengah-tengah kemajuan informasi dan teknologi saat ini, serta di zaman yang penuh dengan krisis akhlak di berbagai lini kehidupan, bagi masyarakat Muslim, pada setiap peringatan Isra Mi'raj diharapkan dapat saling menasihati.

Source: http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/24/news_id/1714

By:Irma Agustiyani & Novi Yana 9f


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar